Selamat datang di Blog BKM-PII

Bahan Bakar Alternatif Pengganti BBM

1komentar

Sejak tahun 2008, dari jamannya pemerintahan menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro hingga saat ini masa pemerintahan Pak Jero Wacik, kenaikan harga minyak dunia selalu menjadi permasalahan yang mempengaruhi ekonomi dan pasokan energi Indonesia. Berbagai upaya telah diupayakan untuk mengatasi ketergantungan Indonesia akan bahan bakar minyak antara lain dengan mengupayakan mobil listrik hingga pengadaan bahan bakar minyak dari batubara cair (coal liquefaction).

Pada artikel ini akan saya coba untuk membahas lebih detail konsep bahan bakar alternatif pengganti BBM tersebut. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk kemakmuran dan perkembangan pembangunan bangsa yang kita cintai ini. Selamat menikmati!

1. Bahan Bakar Minyak (BBM) Alternatif dari Kelapa Sawit atau sumber tumbuh-tumbuhan lainnya 
Bahan bakar minyak selain diproduksi melalui proses pertambangan dapat juga diproduksi dari sumber tumbuh-tumbuhan seperti yang paling terkenal saat ini adalah dengan menggunakan kelapa sawit alias Crude Palm Oil (CPO). Dr. Rahmat Mulyadi, Kepala Bidang Teknologi Informasi Energi, Material dan Lingkungan BPPT, juga mengklaim bahwa biodiesel ini cukup bersahabat dengan lingkungan. Biodiesel kelapa sawit di negara seperti Amerika Serikat (AS) dan Australia sudah banyak diaplikasikan. Sedangkan pemakaian secara besar-besaran justru terjadi di negara Amerika Latin dan Afrika, di mana produksi kelapa sawit cukup tinggi. Bahkan di Jerman pemakaian biodiesel sudah diterapkan langsung, baik untuk kendaraan maupun mesin industri.

2. Bahan Bakar Minyak (BBM) Alternatif dari Batubara yang dicairkan
Seperti yang kita ketahui saat ini pemakaian batubara biasanya digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik dan masih dalam bentuk padat yang kemudian digerus lalu di bakar. Teknologi baru yang sedang dikembangkan saat ini adalah dengan mengolah batubara menjadi sumber bahan bakar cair. Pada prinsipnya hingga saat ini ada dua cara untuk dapat memproses batubara agar bisa digunakan sebagai bahan bakar cair, yakni melalui pencairan batubara secara langsung (coal liquefaction) atau melalui gasifikasi batubara (coal gasification) terlebih dahulu sebelum diproses kemudian menjadi cair (liquid). Apabila melalui proses gasifikasi, ini pun terdapat 2 cara, yaitu melalui gasifikasi batubara di permukaan (surface coal gasification, SCG) dan gasifikasi batubara di bawah tanah (underground coal gasification, UCG). Gas yang diproduksi, diolah dan dibersihkan (sering disebut syngas = synthetic gas) inilah yang kemudian dicairkan menjadi BBM alternatif.  Dengan mengolah batubara menjadi gas sintesis atau minyak sintesis ini, maka transportasi darat dengan menggunakan bahan bakar batubara ini bisa diterapkan di Indonesia.

Gambar 1 menunjukkan gmana proses pembuatan batubara cair tersebut dengan gasifikasi batubara di bawah tanah (UCG) dan proses mengubah batubara gas menjadi batubara cair siap pakai seperti diesel, naphta, avtur, dll (Gas to Liquid : GTL; prosesnya biasanya menggunakan teknologi sintesa fisher-trophch). UCG adalah proses pengambilan kandungan gas melalui gasifikasi batubara di dalam tanah tanpa harus terlebih dahulu mengambil batubara tersebut ke permukaan. Disitulah letak keunggulan UCG dibanding SCG, yakni karena tidak memerlukan penambangan batubara di permukaan (surface mining) yang berpotensi merusak lingkungan, juga tidak memerlukan penambangan batubara di bawah permukaan (underground mining) yang berpotensi membahayakan jiwa para pekerjanya. Dengan tidak adanya penambangan, maka biaya gasifikasi (biaya produksi gas) berpotensi sangat rendah.

Gambar 1 Proses pembuatan batubara cair

Konon, teknologi UCG pertama kali ditemukan di Inggris, tetapi kemudian pada awal abad 20 dikembangkan oleh Uni Soviet. Pembangkit lsitrik berbahan bakar syngas hasil UCG dari batubara muda (lignit) konon masih beroperasi hingga saat ini di Angren, Uzbekistan (salah satu negara mantan Uni Soviet). Beberapa tahun belakangan ini, UCG kembali dikembangkan, antara lain oleh Amerika Serikat, Inggris, Kanada dan Australia. Disana UCG lebih diarahkan kepada lapisan-lapisan batubara yang tidak memungkinkan ditambang dengan teknologi penambangan yang ada saat ini, antara lain karena kemiringan lapisan yang terlalu curam atau terlalu dalam.

Teknologi CTG-GTL telah lama ditemukan dan digunakan oleh tentara Nazi Jerman pada Perang Dunia II, yang memungkinkan pesawat-pesawat tempur Nazi saat itu masih tetap bisa membombardir musuh meski kilang-kilang minyak mereka telah dihancurkan oleh Sekutu. Gasifikasi batubara pada zaman Nazi itu kemungkinan besar SCG (surface coal gasification) dimana batubara dari dalam tanah ditambang terlebih dahulu, diproses menjadi gas, kemudian diolah menjadi BBM melalui sintesa Fischer-Tropsch atau sering disingkat FT (diambil dari nama penemunya, dua ilmuwan Jerman Franz Fischer dan Hans Tropsch). Teknologi CTG-GTL ini pula yang membuat Afrika Selatan mampu survival meskipun Rezim Aparrtheid saat itu mengalami embargo pasokan minyak. Dalam hal gas to liquid (GTL), perusahaan miyak Shell telah lama pula membuat BBM dari LNG (liquefied natural gas) di Bintulu – Malaysia, yang mungkin saja sebagian hasilnya di jual melalui beberapa SPBU Shell di Indonesia.

Sejak tahun 1999, Linc Energy Ltd ・sebuah perusahaan swasta Australia (sekarang perusahaan publik) telah mengadakan uji coba UCG di Chinchilla, wilayah pedesaan sekitar 300 km dari Brisbane. Sejak tahun 2006 Linc Energy memproduksi BBM skala pilot dari syngas hasil UCG. Sejak tahun 2008 mereka beroperasi komersial, memproduksi BBM jenis diesel 20,000 barel per hari. Yang patut dipuji dan ditiru dari Linc Energy Ltd adalah, perusahaan ini bukanlah penemu asli UCG sampai menjadi BBM, tetapi ia pandai menggabungkan penemuan-penemuan sebelumnya yang sudah terbukti kehandalan dan kelayakannya. Untuk memulai produksi gas melalui UCG, Linc Energy bekerjasama dengan para ahli dari ex-Uni Soviet. Dalam hal konversi gas menjadi BBM, Linc Energy menggunakan teknologi sintesa Fischer-Tropsch dengan bantuan para ahli Syntroleum Amerika Serikat.

Berdasarkan sejarah di atas, maka membuat BBM dari batubara melalui UCG-GTL seperti yang dilakukan Linc Energy Ltd ・Australia, seharusnya bisa dilakukan juga oleh Bangsa Indonesia. Karena teknologi sudah tersedia dan terbukti handal.

2.1 Keekonomian Proses Pembuatan Batubara Cair
Untuk menggambarkan prospek keekonomian UCG-GTL dalam tulisan ini akan disajikan jumlah batubara, modal, asumsi harga jual BBM, biaya operasi/produksi dan prakiraan laba usaha. Asumsi yang digunakan berdasarkan publikasi-publikasi Linc Energy Ltd (http://www.lincenergy.com.au) yang terdapat indikasi bahwa untuk memproduki BBM sebanyak 1 barel per hari (bpd) dibutuhkan ketersediaan batubara (di dalam tanah) sekitar ½ ton/hari (tpd). Jadi, kalau suatu hari kelak Indonesia mengalami kekurangan pasokan BBM rata-rata 2 juta bpd dan beniat untuk tidak lagi mengimpor minyak serta akan membuat BBM sendiri melalui UCG-GTL, maka jumlah batubara yang harus tersedia di bawah tanah adalah 1 juta tpd = 350 juta ton/tahun (asumsi 350 hari kerja per tahun).

Menurut prakiraan para pakar geologi ESDM, bahwa sampai dengan akhir tahun 2008 jumlah sumberdaya batubara di dalam perut bumi Indonesia mencapai 105 milyar ton (105,000 juta ton).  Katakanlah yang bisa ditambang hanya 40 milyar ton, sedangkan 65 milyar sisanya akan digunakan sebagai sumber BBM. Jadi, kalau dibutuhkan batubara 350 juta ton/tahun, maka Indonesia diharapkan mampu memasok kebutuhan BBM nasional secara mandiri (tanpa harus impor) selama 65,000/350 = 170 tahun.

Gambar 2 Laju harga bahan bakar fosil dunia

Untuk mengganti kebutuhan impor minyak Indonesia saat ini sebesar 400,000 barel/hari, hanya dibutuhkan batubara 0.20 juta tpd = 70 juta ton/tahun, sehingga Indonesia masih memiliki sumberdaya minyak dari batubara untuk jangka waktu 65,000/70 = 928 tahun. Berdasarkan prospektus Linc Energy (2006), dapat dihitung pula bahwa untuk memproduksi 1 bpd BBM dibutuhkan investasi sekitar USD30,000/bpd (tiga puluh ribu dollar Amerika Serikat per barel per hari), termasuk biaya bunga selama 18 bulan masa konstruksi dan biaya-biaya praproduksi lainnya. Maka, untuk memproduksi minyak pengganti impor Indonesia 0.4 juta bpd, akan diperlukan total modal = 400,000 bpd x USD30,000/bpd = USD12 milyar (± Rp.120 triliun). Angka USD 30.000/Bpd ini juga umum dijadikan patokan oleh Sasol (Afrika Selatan) dan beberapa perusahaan Amerika.

Dari proses UCG-GTL sebanyak 400,000 bpd ini dapat dihasilkan minyak diesel rata-rata 124 juta barel/tahun, hidrokarbon = 71 juta ton/tahun dan naphtalene = 47 juta ton/tahun.

Dari proyeksi keuangan perusahaan Autralia itu pula dapat diketahui bahwa rata-rata biaya produksi BBM melalui proses UCG-GTL adalah sekitar $18/barel, atau sama dengan ($18 x Rp10,000/$ : 159 liter/barel) = Rp.1,150/liter BBM siap pakai (bukan minyak mentah). Biaya ini jauh lebih rendah dibanding GTL yang sumber gasnya dari LNG atau gasifikasi batubara di permukaan.

Berikut ini adalah gambaran hitungan detail keekonomian UCG-GTL :


Sumber: Catatan Fendy Sutrisna
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

19 September 2013 13.07

kurang lengkap

Poskan Komentar

 
Support : BKM-PII | Creating Website | Dewa Yuniardi | Mas Template | Asianusa
Copyright © 2011-2014. Blog BKM-PII - All Rights Reserved
Template Created by Maskolis Modify by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger